GEMPUR

Gerakan Masyarakat Peduli Uang Rupiah

Hari ini saya menghadiri rapat bersama Retailer lainnya yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Agendanya membahas kebutuhan Uang Pecahan Kecil (UPK) agar tidak ada lagi pengembalian uang customer menggunakan permen. Sebenarnya di perusahaan tempat saya bekerja sudah sejak lama mengharamkan penggunaan permen sebagai kembalian, karena permen bukan alat pembayaran yang sah, dan kami juga tidak bisa menerima customer balik berbelanja menggunakan permen.

Masalah uang kembalian ini cukup pelik dikalangan pedagang, terutama retail (pedagang eceran). Hanya karena kurang kembalian Rp.50,- saja kami bisa dimaki-maki oleh customer. Sebenarnya, kami, dan peritel lainnya, bukan sengaja mengambil keuntungan dari uang kembalian customer, tetapi keterbatasan ketersediaan uang pecahan kecil tadi. Untuk toko saya saja, kami membutuhkan rata-rata Rp.444juta /perbulan (untuk ramadhan – lebaran bisa 2x lipat). Dan ini bukan perkara mudah mendapatkannya, karena ada berapa banyak retail di satu kota? Belum lagi jalan tol. Semua rebutan mendapatkan uang pecahan kecil. Kemudian, setelah sampai ditangan customer, kemana uang tersebut? Terutama uang koin?

Semua orang tahu, uang itu penting. Tapi seberapa pentingkah kita menghargai uang-uang pecahan kecil? Seberapa peduli kita terhadap rupiah? Mengambil contoh Singapore, mereka bahkan masih punya pecahan 1 sen, penduduknya masih banyak menggunakan uang 1 sen tersebut. Sedangkan kita? Uang Rp.100,- dianggap tak bernilai, apalagi pecahan Rp.25,-. Bank menggelontorkan uang koin ke retail-retail, retail mengembalikan ke masyarakat. Dan sudah, sering berhenti disana. Uang koin mandeg perputarannya, sementara biaya produksinya cukup mahal karena berbahan logam. Sebanyak apapun Bank Indonesia menyalurkan koin, hanya sedikit sekali yang kembali. Butuh bukti? Mari kita lirik aksi Koin Untuk Prita. Dalam waktu tidak sampai satu bulan, terkumpul uang koin ratusan juta yang kalau beratnya hingga 4 ton. Ini bukti betapa banyak uang koin yang perputarannya mandeg di masyarakat kita. Masyarakat kita terlalu enggan membawa uang koin saat berbelanja, tapi kalau pedagang kurang kembalian, nama baik jadi taruhan. Padahal kami tidak keberatan bila customer membayar dengan uang pecahan kecil termasuk koin.

Disini saya bukan membela retail, bukan mendukung “koversi” uang menjadi permen atau sejenisnya. Hanya sekedar sharing dan himbauan, agar kita lebih peduli terhadap uang Rupiah kita, termasuk uang pecahan kecil (koin). Akan lebih efisien kalau uang-uang itu mengalami siklus perputaran yang lancar, dan uang kertas tetap terjaga baik keadaannya, bukan begitu? Negara bisa meminimalkan anggaran mencetak uang, pedagang mudah memiliki ketersediaan uang pecahan kecil, masyarakat sebagai customer tidak dirugikan karena kembaliannya kurang, serta orang asing pun bisa ikut menghargai mata uang kita. Saya meminjam istilah Bank Indonesia, GEMPUR. Gerakan Masyarakat Peduli Uang Rupiah.

***Bongkar laci meja kita, kumpulkan uang koin, jangan lupa dibawa saat berbelanja. Retail siap menerima. Dan pelihara uang kertas, hingga pecahan seribu rupiah. Langkah kecil membantu Negara***

14 tanggapan untuk posting ini.

  1. Baru sehari beritikad baik, duduk bersama. BI menyatakan komitmennya akan memberikan pelayanan terbaik dan membantu retail pemenuhan kebutuhan Uang Pecahan Kecil. Hari ini saya hendak menukarkan uang untuk keperluan long weekend, ditolak, dengan alasan tutup buku. Saya mengerti bahwa akhir tahun ada yang namanya tutup buku, tetapi bukankah kemaren pagi-pagi sekali saya mengirimkan fax perincian kebutuhan uang kecil yang akan diambil hari ini. Sayangnya tidak ada konfirmasi balasan dari pihak BI nya bahwa hari ini tidak ada penukaran uang. Padahal kemarin kami semua telah beritikad baik memenuhi undangan bapak-bapak. Saya komplain ke pihak BInya, mereka bilang mau bantu, tetapi penukaran baru bisa tanggal 4 Januari. Itu sih sama aja bohong, 4 Januari memang pasti bisa, dan weekend ini bagaimana nasib kami? Sepertinya akhir tahun ini saya tutup dengan silaturahmi ke semua POM BENSIN dan PELAYANAN PARKIR.

    Balas

  2. Qinhuangdao Welcomes You!

    Balas

  3. Setuju dengan tulisan ini. Acapkali kita tidak mau repot-repot untuk bawa uang koin malah membuat kita membayar lebih mahal.

    Kalaupun harus menggunakan permen sebagai kembalian, tolong jangan sebiji dua biji. Tapi sebungkus permen. Ya, paling tidak isi sepuluh gitu, jadi kita tidak merasa dicurangi (paling tidak berkurang lah rasa diperlakukan seperti itu) he..he..he..

    Balas

    • kalau kembalian di konversikan dengan permen, takutnya nanti customer datang belanja pakai permen…apakah karyawan saya terima digaji permen yah?? Benar-benar malang nasib uang koin, hanya berlaku untuk transaksi dengan pengamen dan pengemis

      Balas

  4. emang sayang sih kalo uang receh gak dimanfaatin, tapi bagi sebagian besar orang, termasuk saya, membawa uang receh emang merepotkan. Saya sendiri bawa uang receh paling kalo lagi naik bis, buat dikasih pengamen or pengemis :D

    Balas

  5. sudah apaki emas dan perak saja untuk transaksi

    Balas

  6. hmm….
    kyknya skrg uang receh memang semakin susah ditemui ya…
    kdg2 saia suka sebel jg siyh kalo dpt kembalian permen gitu……hehehe

    mari kita dukung penggunaan uang koin lagi yuk!!!!

    *slm kenal dan mksih udah mampir di blogkuw ya, mbak*

    Balas

  7. setuju. wah ternyata kepingan kecil itu mempunyai pengaruh bsar ya?
    aku baru sadar. aku sendiri kadang risih puynya koin. kalau 100 rupiah, ih ingin sekali membuangnya ke laut.
    padahal eh, uang logam itu uang asli, bukan tipuan kayak uang kertas. kan uang logam punya nilai intrinsik. gak kayak uang kertas.
    uang kecil itu….

    Balas

  8. Kalo biasa pake uang koin yang gope bos! :D
    Ayoo kita jaga uang rupiah kita!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.